Jalan Hidup

Hidup tidak dengan cara menghabiskan rokok putihmu setiap hari.
Atau berlama-lama dengan mesin berlayar 15 inci.

Kau bisa berteriak tanpa ada orang yang melarangmu, tapi mendengarkanmu.
Daripada kau pasang poster-poster disetiap dinding tembok dan orang-orang berlalu-lalang tanpa sedikitpun melihatnya.

Hidup bukan dengan jalan menghabiskan makanan yang kau punya.
Sementara saudaramu mengencangkan ikat pinggang dan mengganjal perutnya dengan batu.

Kau harus mulai akrab dengan jalan terjal berliku dan segala onak durinya.
Atau bahkan dengan wabah penyakit yang dibawa oleh cuaca dingin saat kemarau.

Gadis Bis Kota

Cinta… banyak orang yang tak tahu apa dan bagaimana cinta. Termasuk aku.
Aku adalah seorang mahasiswa fakultas hukum sebuah perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Kota yang dulunya adalah lautan. Lautan api. Ayahku yang seorang pegawai negeri menginginkan anaknya kelak menjadi seorang pengacara. Walaupun aku lebih senang memilih teknik. Ada apa dibalik pekerjaan pengacara..?? Biarlah.

Bisa satu jam perjalanan dari rumah ke kampus. Dengan jarak yang jauh itu, seharusnya aku bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum ayam jago pak RT melek, aku harus sudah bersiap berangkat kuliah. Ya, ayam jago pak RT. Ayam jago yg menghamili semua ayam betina pak RT.

Tapi kebiasaan seperti itu tidak ada padaku. Aku selalu bangun kesiangan meskipun tidak pernah bergadang. Sebuah kebiasaan buruk yang tak bisa hilang dan takkan kubiarkan hilang. Aku menikmatinya.

***

Hari itu seperti hari-hari biasanya, aku harus berlari pontang-panting mengejar bis kota menuju tempat kuliah. Aduh tulangku serasa remuk, padahal aku tidak sedang mencari nafkah seperti bang Jejen yang selalu banting tulang. Semoga ketemu nafkah yang kau cari bang. “Gak apa-apa……. teu nanaon, aku siap lahir batin ngejar bis kota asal bisa sampai di kampus tercinta”.

“Cape jang?”, kata kondektur sempat-sempatnya bertanya walaupun sudah tau jawabannya. “Lumayan mang”, jawabku sekenanya sambil merogoh saku jeans belelku untuk mengambil sapu tangan yang sedari tadi menunggu untuk diusap-kan ke dahiku yang berkeringat. Banyak sekali keringatnya. Campur daki.

Setelah sejenak menghilangkan peluh, aku langsung mencari tempat duduk. Wah.. kebetulan, didepan ada satu bangku yang masih kosong. Tinggal satu.
Belum sampai tiga langkah aku berjalan menuju bangku itu, seorang bapak yang baru naik dari pintu depan dengan santainya menduduki bangku jatahku. Apa mau dikata, mau tidak mau aku harus berdiri. Dasar nasib, sudah jatuh tertimpa ambulans.

***

Bis sampai di halte pertama, “Bandung… Bandung…..”, seru kondektur ditengah hangat pagi mempromosikan bis muatannya, padahal dikaca depan bis sudah ada tulisan Bandung-Ciburuy via TOL. Besar sekali.

Orang-orang berebut naik takut ketinggalan. Dengan sekejap bispun dipenuhi penumpang dan melaju meninggalkan halte.

***

“Hmm…. wangi ini…..”
“Wangi yang kuimpikan malam tadi.”
“Dari mana wangi ini?”
Kata-kata tersebut aku bilang dalam hati saja.

Kucium wangi ini, terus kucium, mataku terpejam. wangi ini datang dari belakang.
Sambil menoleh kebelakang aku terus mencium wangi ini. dan ketika itu pula aku dikejutkan oleh wanita gemuk yang berdiri tepat dibelakangku. wajahnya sangat menyedihkan, kenapa kusebut menyedihkan..??, tak tahu lah. kulihat pula bibirnya berlendir dengan lipstick yang …. astaga warnanya norak banget.

Bersambung.....

My Monologue

Perjuangan eksistensi diri..
Damba pengakuan koloni..
Identitas pribadi padahal imitasi..
Maka kau adalah jatidiri yang belum ditemukan..

Aku tak akan mencari jatidiri..
Karena aku adalah jatidiriku..

Cinta

Cinta itu seni pengendalian emosi.. Perpaduan ego..
Cinta itu teknologi purba maha karya jiwa-jiwa mulia..
Cinta adalah makhluk halus pemakan hati..
Cinta mengakibatkan serangan jantung dan kebutaan..
Darimanakah datangnya cinta..??
Haruskah selalu dari mata turun ke hati..??